Home » Blog » Kunjungi Kabupaten Cianjur, IFAD Apresiasi Kemajuan Regenerasi Petani di Indonesia

Kunjungi Kabupaten Cianjur, IFAD Apresiasi Kemajuan Regenerasi Petani di Indonesia

JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat regenerasi petani mulai terlihat dengan hadirnya generasi millenial yang berkecimpung disektor pertanian mulai dari sisi hulu hingga hilir.

Salah satu petani millenial yang sukses menggeluti sektor pertanian adalah Uden Suherlan.

Duta Petani Andalan (DPA) Kementerian Pertanian (Kementan) RI ini berhasil mengembangkan komoditas sektor hortikultura hingga meraih keuntungan ratusan juta dari budidaya Cabai Paprika. Ketua Kelompok Tani‎ serta P4S Gede Harapan Desa Gekbrong, Uden Suherlan menuturkan saat ini pihaknya tengah membudidayakan sekitar 36 ribu pohon Cabai Paprika di lahan dengan luasan lebih dari 1200 meter persegi.

Keberhasilan Uden pun menyita perhatian tim International Fund for Agricultural Development yang berkesempatan mengunjungi kabupaten Cianjur sebagai salah satu kabupaten lokasi program Youth Enterpreneurship and Employment Support Services (YESS).

Satu Santala selaku Associate Vice-President of the External Relations and Governance Department at IFAD, Ivan Cossío Cortez serta Akiko Muto selaku Partnership Officer at IFAD didampingi Kepala Pusat Pendidikan Pertanian sekaligus Direktur Program YESS beserta Project Manager PPIU Jawa Barat pun berkesempatan melihat langsung kegiatan magang bersertifikat yang dilakukan di P4S Gede Harapan ini (04/09).

“Hortikultura memiliki banyak potensi di Indonesia. Saya bertemu dengan peserta magang program YESS di Cianjur yang mempelajari keterampilan baru untuk pekerjaan atau memulai bisnis mereka sendiri. IFAD melalui program YESS sangat senang melihat dan mendengar betapa bersemangatnya mereka untuk terlibat dan peluang yang mereka lihat di sektor ini”, ungkap Satu.

Ketika ditanya oleh Satu dan rekan, Uden menjelaskan bahwa pengembangan budidaya paprika dilakukan dengan teknologi Green House.

Dari budidaya ini, pihaknya bisa memproduksi lebih dari 20 ton per bulan untuk disuplai ke Jabodetabek. Menurut Uden, untuk produksi per batang rata-rata mampu menghasilkan 2 sampai 4 kilogram, setiap kilogram sekitar 5-7 buah. Adapun masa panen cabai yang biasa diolah buat salad ini mencapai 75 hari. Satu siklus bisa panen selesai bisa 8-9 bulan.

“Harga jualnya cukup tinggi dan kami edarkan ke supermarket-supermarket. Biaya produksi lebih murah karena kami gunakan pestisida buatan sendiri. Itu bisa pangkas biaya produksi 25 persen. Jadi memang sangat menguntungkan,” katanya.

Dijelaskan dia, pihaknya memang lebih mengarahkan pengembangan budidaya cabai yang lebih ramah lingkungan untuk meningkatkan kualitas dan mutu cabai yang dikembangkan.

Selain itu tentunya juga untuk menekan ongkos produksi yang selama ini memang cukup tinggi karena petani terbiasa menggunakan pestisida buatan pabrik. “Kebetulan pestisida ini kami buat sendiri terbuat dari bambu, siuren buah maja, dan lainnya. Dari pestisida ini kami bisa lakukan efisiensi 25 persen,” tambah dia.

Uden pun menjelaskan ia telah dua periode (2021-2022) menerima peserta magang bersertifikat program YESS.

“Kami mengajarkan bagaimana cara memulai berbudidaya yang baik, mulai dari menyiapkan media tanam, menanam, memberi nutrisi hingga memelihara hingga panen. Setelah panen kami pun mengajarkan bagaimana mengemas dan memasarkannya. Dari peserta magang di tahun 2021 telaha da 3 orang yang menjadi mitra bisnis kami. Mereka memproduksi paprika lalu kami menampung hasil produksinya tentunya dengan harga yang baik”, terang Uden.

Pria yang berpenampilan bersahaja ini pun menekankan bahwa ketika kita akan menanam sesuatu, kita harus mengetahui pangsa pasarnya. “ Ketahui dulu peluang pasarnya, bila pasar sudah jelas kita harus memanage dengan baik masa tanamnya, hal ini harus dilakukan agar tidak terjadi penumpukan hasil panen di satu waktu. Produk hortikultura ini kan sangat rentan dan mudah rusak, masanya sangat pendek jadi kita harus pintar mengatur masa tanam hingga tidak terjadi panen serentak yang akhirnya harga dipasar rendah”, pesan Uden.

Apa yang dilakukan oleh Uden sejalan dengan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) yang terus berupaya memperkuat hilirisasi sektor pertanian, terutama untuk mendongkrak nilai ekspor. “Kita harus bisa memperhitungkan offtakernya siapa, sehingga produk yang dihasilkan oleh petani sudah jelas marketnya. Saya ingin kita tidak sampai ke budidaya saja tapi juga fokus kepada upaya hilirisasi industri primer, “ ujar Mentan SYL dalam Rapat Kordinasi (Rakor) Pengembangan Hortikultura Tahun 2022 di Bogor beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut SYL kemajuan pertanian Indonesia ke depan juga tidak lepas dari peran petani milenial. Penumbuhan petani milenial harus terus didorong secara masif dengan mengoptimalkan peran Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan yang sudah dikukuhkan.

“Saya senang melihat perkembangan regenerasi petani di Indonesia dan saya berharap DPM/DPA dapat menjadi pioner di lapangan untuk mengakselerasi pembangunan pertanian di daerah”,tuturnya.

Terkait regenerasi petani, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan program YESS dikhususkan bagi generasi muda yang ingin meningkatkan kapasitas pengetahuan dan kemampuan mereka di bidang pertanian. “Ada dua kunci utama dalam pelaksanaan program YESS. Pertama, program YESS hadir untuk meningkatkan kapasitas pemuda di perdesaan melalui pendidikan dan pelatihan untuk menjadi agen pembangunan pertanian. Kedua, sasaran dari program YESS, yakni pemuda harus memiliki jiwa kewirausahaan dari hulu sampai hilir,” kata Dedi.